Jumat, 21 Maret 2014

Mental Kewirausahaan dalam Menjawab Permasalahan Bangsa.

KEWIRAUSAAN atau “entrepreneurship” makin dirasakan urgensinya saat ini sebagai “the backbone of economy”, atau tulang punggung perekonomian suatu bangsa. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan suatu negara adalah para wirausahawan. Tanpa adanya mental kewirausahaan pada diri seseorang atau suatu bangsa, maka segala potensi, sumber energi, komoditi dan mineral yang melimpah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.
Di era abad 21 ini,perkembangan jumlah populasi manusia di dunia semakin meningkat.termasuk juga di indonesia,jumlah manusia di indonesia pada sensus penduduk 2013, mencapai lebih dari 400 juta jiwa. Seiring dengan perkembangan populasi yang semakin tumbuh dengan pesatnya, semakin tinggi pula tingkat pengangguran manusia pada usia produktif karena kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Tentu saja ini menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit di pecahkan pemerintah, banyak individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang memberatkan permasalahan tersebut kepada pemerintah, padahal pemerintah sendiri telah banyak mencanangkan program-program kewirausahaan, dan seharusnya permasalahan tersebut bukan hanya tugas pemerintah terhadap masyarakat untuk menyediakan lapangan kerja,tetapi tugas masyarakat sendiri. Mencari pekerjaan memang sulit. Tapi,kita sebagai masyarakat modern sudah sepatutnya berfikir panjang dan dewasa terhadap permasalahan lapangan pekerjaan. Sudah pasti pekerjaan di cari seseorang agar seseorang bisa mendapatkan uang untuk bisa bertahan hidup dan juga memperbaiki kualitas ekonomi individu ataupun keluarga.
Di Indonesia, jumlah pelaku wirausaha saat ini masih relatif minim. Dari populasi yang mencapai sekitar 240 juta penduduk, porsi pelaku wirausaha hanya sekitar 0,2%, sedangkan jumlah wirausaha yang ideal untuk menggerakkan perekonomian suatu negara itu minimal 2% dari total jumlah penduduk. Sementara itu, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi fakta tak terbantahkan yang masih melingkupi sebagian besar rakyat Indonesia.
Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 menunjukkan jumlah pemuda Indonesia yang masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka juga hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Sementara, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hingga Februari 2013, jumlah penganggur di Indonesia mencapai 8,12 juta dengan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2013 mencapai 6,8 persen dari total angkatan kerja.
Dengan data di atas, kebutuhan akan tersedianya sejumlah wirausaha baru yang handal, tangguh serta ungggul menjadi kebutuhan yang perlu disiapkan melalui perencanaan yang jelas dan langkah-langkah yang konkrit serta konsisten dalam penyelenggaraannya.
Dalam isu kewirausahaan golongan pemuda perlu memperoleh perhatian khusus. Selain sebagai nafas zaman, kaum mudalah yang senatiasa menjadi incaran pemasaran sebagai segmen pasar potensial. Posisi pemuda juga strategis dan khas secara budaya dan kondisi fisik serta emosional. Para pemudalah juga yang nanti mengalami persoalan besar sebagai pembayar hutang bangsa, menghadapi persaingan global, serta paradigma kehidupan yang baru.
Sayangnya, pilihan menjadi wirausaha ini belum begitu banyak tumbuh di kalangan generasi muda. Membludaknya pendaftar CPNS, mental menjadi selebritis dadakan atau politisi karbitan menunjukkan masih rendahnya karakter mental kewirausahaan pemuda kita. Tampak masih sangat kuat mental ambtenar, yaitu mengharapkan output pendidikan sebagai pekerja dalam diri generasi muda karena menganggap pegawai negeri memiliki status sosial yang cukup tinggi dan disegani.
Membangun karakter mental kewirausahaan pemuda memang tidaklah mudah. Selain kesadaran pemuda, dukungan keluarga, lingkungan yang kondusif serta peran pemerintah dan pihak lainnya sangat dibutuhkan. Hal ini karena entrepreneurship sesungguhnya tak sebatas profesi, namun lebih berkaitan dengan mindset dan mental seseorang yang dibutuhkan di beragam bidang kehidupan.
Entrepreneurship membutuhkan kemampuan mengolah kesempatan, tantangan, dan resiko dalam tindakan nyata. Entrepreneurship butuh proses yang akan lahir seiring dengan pengalaman, eksperimen, informasi berbagai sumber, dan tidak sebatas pada pendidikan di sekolah. Seorang entrepreneurship membutuhkan mental dan semangat yang tinggi karena dihadapkan pada ketidakpastian. Mereka yang berhasil sebagai entrepreneurship adalah mereka yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi kemungkinan dan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Entrepreneurship merupakan nilai dari suatu generasi. Tanpa entrepreneur maka suatu generasi akan kehilangan esensinya. Karena itu saatnya kita melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda melalui pengembangan mental kewirausahaan. Alumni perguruan tinggi harus didorong supaya berinisiatif menciptakan lapangan kerja. Demikian juga diperlukan dorongan lingkungan keluarga dimana para orang tua berani untuk mengarahkan anaknya meninggalkan “zona nyaman” dan berani untuk berkarya, berkreasi dan menciptakan nilai baru yang bermanfaat.
Secara spesifik, tumbuhnya semangat dan kualitas kewirausahaan ini sangat bergantung pula pada lingkungan makro. Pemerintah dan masyarakat berperan menciptakan iklim investasi yang kondusif, peraturan persaingan usaha yang sehat, penegakan hukum yang konsisten dan tidak pandang bulu, serta modal sosial yang kuat. Bila tidak, walaupun melahirkan banyak pengusaha maka yang lahir sesungguhnya adalah “wirausahawan semu” yang muncul tak lebih karena mental korup, dekat dengan kekuasaan atau karena nepotisme dan kolusi. Bangsa ini membutuhkan generasi baru wirausahawan yang ungggul (entrepreneurial excellence) yang memiliki karakter mental kewirausahaan seperti inovatif dan kreatif namun juga tangguh dan peduli.
Dalam sebuah pertemuan di istana negara, wapres Boediono mengajak para pengusaha indonesia untuk bersama menyelamatkan generasi muda indonesia yang secara geografis di untungkan dengan banyaknya usia produktif di Indonesia. Namun, jika potensinya tidak di asah  dalam berwirausaha,akan menjadi masalah besar juga.
Apakah anda setuju dengan kondisi masyarakat indonesia saat ini, dimana masyarakat tersebut banyak yang “menjadi buruh di bangsa sendiri?”. Tentu saja keadaan tersebut menjadi suatu permasalahan yang sangat “vital” bagi bangsa indonesia. Mengapa begitu?,tentu saja,karena di tengah bangsa yang berlimpah kekayaan sumber daya alam ini,rakyatnya sendiri masih harus menjadi buruh.
Sebagai masyarakat yang modern,apalagi seorang yang berpendidikan kita jangan hanya mencari pekerjaan, tetapi kita juga harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan berwirausaha. Kita sudah sering mendengar kalimat “sebuah bangsa bisa maju,jika wirausahanya maju”. Kalimat tersebut bukan hanya omong kosong belaka, dapat di buktikan dengan negara-negara maju di dunia,diantaranya amerika,singapura,dan beberapa negara-negara maju lainnya.mereka bisa maju karena masyarakat negara tersebut banyak yang berwirausaha. Seharusnya setiap masyarakat harus memiliki mental BOSS ,jangan hanya menjadi mental pekerja saja. Dengan sebuah ide kecil yang INOVATIF , maka wirausaha dapat terwujud. Sudah banyak contoh ide-ide kreatif dari para wirausahawan, tinggal kita-nya harus bisa mengaplikasikan ide-ide yang kita dapat untuk menjadi sebuah karya yang inovatif.
Kemampuan berwirausaha dapat diperoleh dari berbagai pelatihan-pelatihan,seminar,atau dengan berinteraksi langsung kepada para pelaku wirausaha.  Dengan melakukan hal-hal tersebut kita bisa mendapatkan ilmu serta pelajaran wirausaha dan langsung bisa terjun kedalam dunia USAHA yang sangat luas.
Meningkatkan mental generasi muda dalam berwirausaha adalah salah satu cara untuk membangun jiwa enterpreneur yang tangguh. Karena ,walaupun seseorang memahami strategi wirausaha tapi dia tidak berani terjun ke dalam dunia usaha,maka proses wirausaha pun tidak akan terwujud. Banyak yang takut akan ketatnya persaingan dengan perusahaan asing yang bermodal besar, sehingga menciutkan mental dari para enterpreneur muda indonesia. Sebenarnya, persaingan terjadi bukan untuk saling menjatuhkan antar pengusaha,tetapi persaingan terjadi untuk lebih memotivasi para pengusaha tersebut untuk lebih berinovasi dalam hasil produksi,distribusi,dan pemasarannya.
Sebuah kata yang cukup banyak dikatakan dan didengar generasi muda indonesia diantaranya adalah kata “gaul”. Namun para pemuda tersebut banyak yang salah menanggapi akan pergaulannya,biasanya pemuda yang lebih banyak bepergian ke tempat-tempat hiburan dan perbelanjaan adalah pemuda yang gaul. Seharusnya para pemuda indonesia harus bisa lebih memahami kata gaul yang memiliki arti luas. Banyak pemuda yang tidak merasakan dan memahami akan pergaulan mereka, “apakah menggauli?, Atau digauli?”. Pemuda kita banyak yang merasa GAUL ketika mereka “di gauli” . Contoh,mereka berani menyebutkan “gue anak gaul nih ,semalem aja abis nongkrong di club,pakaian import,HP keluaran baru juga.” . melihat contoh tersebut, seharusnya kita sadar, bahwa kita sedang di gauli oleh para pengusaha-pengusaha yang inovatif  dalam usahanya,sehingga menjadikan masyarakat lebih memilih sifat konsumtif daripada produktif. Mengapa mereka bisa sehebat itu ketika Sifat masyarakat cenderung menjadi konsumtif ? karena para pengusaha memiliki pemikiran yang briliant dan berhasil mengaplikasikan produk-produk dari pengusaha-pengusaha yang lebih dahulu sehingga menjadikan inovasi baru dalam wirausahanya.Masyarakat utamanya pemuda harus gaul,tetapi mereka harus melihat gaul tersebut dari perspektif positifnya. Karena dengan kita bergaul pada segi positif,kita akan mendapatkan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Jika setiap masyarakat sadar akan pentingnya wirausaha,tentu saja dapat menekan jumlah pengangguran di indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara dan generasi penerus bagsa harus memiliki mental tangan di atas yang senantiasa memberi kepada sesama ,jangan hanya bersifat tangan dibawah dengan mengharapkan pemberian dari orang lain. Berwirausahalah  demi kemajuan bangsa.

1 komentar: