KEWIRAUSAAN atau
“entrepreneurship” makin dirasakan urgensinya saat ini sebagai “the backbone of
economy”, atau tulang punggung perekonomian suatu bangsa. Hal ini tak lepas
dari fakta bahwa sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan suatu
negara adalah para wirausahawan. Tanpa adanya mental kewirausahaan pada diri
seseorang atau suatu bangsa, maka segala potensi, sumber energi, komoditi dan
mineral yang melimpah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk
kesejahteraan rakyat.
Di era abad 21 ini,perkembangan
jumlah populasi manusia di dunia semakin meningkat.termasuk juga di
indonesia,jumlah manusia di indonesia pada sensus penduduk 2013, mencapai lebih
dari 400 juta jiwa. Seiring dengan perkembangan populasi yang semakin tumbuh
dengan pesatnya, semakin tinggi pula tingkat pengangguran manusia pada usia
produktif karena kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Tentu saja ini menjadi
suatu permasalahan yang sangat sulit di pecahkan pemerintah, banyak individu
atau kelompok-kelompok masyarakat yang memberatkan permasalahan tersebut kepada
pemerintah, padahal pemerintah sendiri telah banyak mencanangkan
program-program kewirausahaan, dan seharusnya permasalahan tersebut bukan hanya
tugas pemerintah terhadap masyarakat untuk menyediakan lapangan kerja,tetapi
tugas masyarakat sendiri. Mencari pekerjaan memang sulit. Tapi,kita sebagai
masyarakat modern sudah sepatutnya berfikir panjang dan dewasa terhadap
permasalahan lapangan pekerjaan. Sudah pasti pekerjaan di cari seseorang agar
seseorang bisa mendapatkan uang untuk bisa bertahan hidup dan juga
memperbaiki kualitas ekonomi individu ataupun keluarga.
Di Indonesia, jumlah
pelaku wirausaha saat ini masih relatif minim. Dari populasi yang mencapai
sekitar 240 juta penduduk, porsi pelaku wirausaha hanya sekitar 0,2%, sedangkan
jumlah wirausaha yang ideal untuk menggerakkan perekonomian suatu negara itu
minimal 2% dari total jumlah penduduk. Sementara itu, kemiskinan dan
pengangguran masih menjadi fakta tak terbantahkan yang masih melingkupi sebagian
besar rakyat Indonesia.
Data Biro Pusat
Statistik (BPS) tahun 2013 menunjukkan jumlah pemuda Indonesia yang masih
menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda.
Sebagian besar dari mereka juga hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan
rendah. Sementara, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,
hingga Februari 2013, jumlah penganggur di Indonesia mencapai 8,12 juta dengan
tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2013 mencapai 6,8 persen dari total
angkatan kerja.
Dengan data di atas,
kebutuhan akan tersedianya sejumlah wirausaha baru yang handal, tangguh serta
ungggul menjadi kebutuhan yang perlu disiapkan melalui perencanaan yang jelas
dan langkah-langkah yang konkrit serta konsisten dalam penyelenggaraannya.
Dalam isu kewirausahaan
golongan pemuda perlu memperoleh perhatian khusus. Selain sebagai nafas zaman,
kaum mudalah yang senatiasa menjadi incaran pemasaran sebagai segmen pasar
potensial. Posisi pemuda juga strategis dan khas secara budaya dan kondisi
fisik serta emosional. Para pemudalah juga yang nanti mengalami persoalan besar
sebagai pembayar hutang bangsa, menghadapi persaingan global, serta paradigma
kehidupan yang baru.
Sayangnya, pilihan
menjadi wirausaha ini belum begitu banyak tumbuh di kalangan generasi muda.
Membludaknya pendaftar CPNS, mental menjadi selebritis dadakan atau politisi
karbitan menunjukkan masih rendahnya karakter mental kewirausahaan pemuda kita.
Tampak masih sangat kuat mental ambtenar, yaitu mengharapkan output pendidikan
sebagai pekerja dalam diri generasi muda karena menganggap pegawai negeri
memiliki status sosial yang cukup tinggi dan disegani.
Membangun karakter
mental kewirausahaan pemuda memang tidaklah mudah. Selain kesadaran pemuda,
dukungan keluarga, lingkungan yang kondusif serta peran pemerintah dan pihak
lainnya sangat dibutuhkan. Hal ini karena entrepreneurship sesungguhnya tak
sebatas profesi, namun lebih berkaitan dengan mindset dan mental seseorang yang
dibutuhkan di beragam bidang kehidupan.
Entrepreneurship
membutuhkan kemampuan mengolah kesempatan, tantangan, dan resiko dalam tindakan
nyata. Entrepreneurship butuh proses yang akan lahir seiring dengan pengalaman,
eksperimen, informasi berbagai sumber, dan tidak sebatas pada pendidikan di
sekolah. Seorang entrepreneurship membutuhkan mental dan semangat yang tinggi
karena dihadapkan pada ketidakpastian. Mereka yang berhasil sebagai
entrepreneurship adalah mereka yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi
kemungkinan dan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Entrepreneurship
merupakan nilai dari suatu generasi. Tanpa entrepreneur maka suatu generasi
akan kehilangan esensinya. Karena itu saatnya kita melahirkan
entrepreneur-entrepreneur muda melalui pengembangan mental kewirausahaan.
Alumni perguruan tinggi harus didorong supaya berinisiatif menciptakan lapangan
kerja. Demikian juga diperlukan dorongan lingkungan keluarga dimana para orang
tua berani untuk mengarahkan anaknya meninggalkan “zona nyaman” dan berani
untuk berkarya, berkreasi dan menciptakan nilai baru yang bermanfaat.
Secara spesifik,
tumbuhnya semangat dan kualitas kewirausahaan ini sangat bergantung pula pada
lingkungan makro. Pemerintah dan masyarakat berperan menciptakan iklim
investasi yang kondusif, peraturan persaingan usaha yang sehat, penegakan hukum
yang konsisten dan tidak pandang bulu, serta modal sosial yang kuat. Bila
tidak, walaupun melahirkan banyak pengusaha maka yang lahir sesungguhnya adalah
“wirausahawan semu” yang muncul tak lebih karena mental korup, dekat dengan
kekuasaan atau karena nepotisme dan kolusi. Bangsa ini membutuhkan generasi
baru wirausahawan yang ungggul (entrepreneurial excellence) yang memiliki
karakter mental kewirausahaan seperti inovatif dan kreatif namun juga tangguh
dan peduli.
Dalam sebuah pertemuan di istana
negara, wapres Boediono mengajak para pengusaha indonesia untuk bersama
menyelamatkan generasi muda indonesia yang secara geografis di untungkan dengan
banyaknya usia produktif di Indonesia. Namun, jika potensinya tidak di
asah dalam berwirausaha,akan menjadi masalah besar juga.
Apakah anda setuju dengan kondisi
masyarakat indonesia saat ini, dimana masyarakat tersebut banyak yang “menjadi
buruh di bangsa sendiri?”. Tentu saja keadaan tersebut menjadi suatu
permasalahan yang sangat “vital” bagi bangsa indonesia. Mengapa
begitu?,tentu saja,karena di tengah bangsa yang berlimpah kekayaan sumber daya
alam ini,rakyatnya sendiri masih harus menjadi buruh.
Sebagai masyarakat yang
modern,apalagi seorang yang berpendidikan kita jangan hanya mencari pekerjaan,
tetapi kita juga harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan berwirausaha.
Kita sudah sering mendengar kalimat “sebuah bangsa bisa maju,jika wirausahanya
maju”. Kalimat tersebut bukan hanya omong kosong belaka, dapat di buktikan
dengan negara-negara maju di dunia,diantaranya amerika,singapura,dan beberapa
negara-negara maju lainnya.mereka bisa maju karena masyarakat negara tersebut
banyak yang berwirausaha. Seharusnya setiap masyarakat harus memiliki mental BOSS
,jangan hanya menjadi mental pekerja saja. Dengan sebuah ide kecil yang
INOVATIF , maka wirausaha dapat terwujud. Sudah banyak contoh ide-ide kreatif
dari para wirausahawan, tinggal kita-nya harus bisa mengaplikasikan
ide-ide yang kita dapat untuk menjadi sebuah karya yang inovatif.
Kemampuan berwirausaha dapat diperoleh
dari berbagai pelatihan-pelatihan,seminar,atau dengan berinteraksi langsung
kepada para pelaku wirausaha. Dengan melakukan hal-hal tersebut kita bisa
mendapatkan ilmu serta pelajaran wirausaha dan langsung bisa terjun kedalam
dunia USAHA yang sangat luas.
Meningkatkan mental generasi muda
dalam berwirausaha adalah salah satu cara untuk membangun jiwa enterpreneur
yang tangguh. Karena ,walaupun seseorang memahami strategi wirausaha tapi dia
tidak berani terjun ke dalam dunia usaha,maka proses wirausaha pun tidak akan
terwujud. Banyak yang takut akan ketatnya persaingan dengan perusahaan asing
yang bermodal besar, sehingga menciutkan mental dari para enterpreneur muda
indonesia. Sebenarnya, persaingan terjadi bukan untuk saling menjatuhkan antar
pengusaha,tetapi persaingan terjadi untuk lebih memotivasi para pengusaha
tersebut untuk lebih berinovasi dalam hasil produksi,distribusi,dan
pemasarannya.
Sebuah kata yang cukup banyak
dikatakan dan didengar generasi muda indonesia diantaranya adalah kata “gaul”.
Namun para pemuda tersebut banyak yang salah menanggapi akan
pergaulannya,biasanya pemuda yang lebih banyak bepergian ke tempat-tempat
hiburan dan perbelanjaan adalah pemuda yang gaul. Seharusnya para pemuda
indonesia harus bisa lebih memahami kata gaul yang memiliki arti luas. Banyak
pemuda yang tidak merasakan dan memahami akan pergaulan mereka, “apakah menggauli?,
Atau digauli?”. Pemuda kita banyak yang merasa GAUL ketika mereka “di
gauli” . Contoh,mereka berani menyebutkan “gue anak gaul nih ,semalem aja
abis nongkrong di club,pakaian import,HP keluaran baru juga.” . melihat
contoh tersebut, seharusnya kita sadar, bahwa kita sedang di gauli oleh para
pengusaha-pengusaha yang inovatif dalam usahanya,sehingga menjadikan
masyarakat lebih memilih sifat konsumtif daripada produktif. Mengapa mereka
bisa sehebat itu ketika Sifat masyarakat cenderung menjadi konsumtif ?
karena para pengusaha memiliki pemikiran yang briliant dan berhasil
mengaplikasikan produk-produk dari pengusaha-pengusaha yang lebih dahulu
sehingga menjadikan inovasi baru dalam wirausahanya.Masyarakat utamanya pemuda
harus gaul,tetapi mereka harus melihat gaul tersebut dari perspektif
positifnya. Karena dengan kita bergaul pada segi positif,kita akan mendapatkan
ilmu-ilmu yang bermanfaat.
Jika setiap masyarakat sadar akan
pentingnya wirausaha,tentu saja dapat menekan jumlah pengangguran di indonesia.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara dan generasi penerus bagsa harus
memiliki mental tangan di atas yang senantiasa memberi kepada sesama
,jangan hanya bersifat tangan dibawah dengan mengharapkan pemberian dari orang
lain. Berwirausahalah demi kemajuan bangsa.
jossman!!
BalasHapus