Senin, 27 Mei 2013

PEMBUSUKAN AKADEMIS




Kebanyakan insan akademis di perguruan tinggi secara sadar atau tidak sadar sudah tenggelam dalam bisnis pendidikan.
Mengapa saya berani berkata demikian? Bisnis pendidikan merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Betapa tidak, jumlah konsumen semakin meningkat setiap tahun (data Dirjen Dikti Kemendiknas memperlihatkan, dari sekitar 5 juta mahasiswa aktif, hanya sekitar 1 juta orang yang tertampung di perguruan tinggi negeri) dengan daya beli yang juga meningkat.
Maka dengan sedikit argumen justifikasi, modal investasi untuk bisnis ini dapat diturunkan sampai ke titik mencengangkan, risiko kerugian bisnis dapat ditekan, dan titik impas pun dapat dicapai dalam kurun waktu luar biasa singkat. Jangan tanya kualitas hasil, yang penting bagaimana membungkus pendidikan tinggi ini sebaik mungkin agar terlihat sangat ilmiah dari kejauhan. Dari situs Dirjen Dikti jelas terlihat jumlah perguruan tinggi (PT) swasta meningkat tajam dan bahkan mencapai 200 institusi baru per tahun.
Namun, seperti dipercaya semua fisikawan, energi bersifat kekal. Peningkatan kuantitas yang begitu pesat tanpa diiringi penambahan investasi yang luar biasa pasti akan menghasilkan penurunan kualitas yang sangat dramatis. Sudah banyak ahli pendidikan yang berteriak-teriak mengingatkan kita akan bahaya penurunan kualitas ini, tetapi tampaknya sudah sulit menghentikan degradasi atau pembusukan akademis ini.
Akibat yang paling kentara adalah seperti yang diprihatinkan oleh Mendiknas baru-baru ini. proporsi mahasiswa teknik hanya 11 persen dan mahasiswa pertanian serta sains masing-masing 3 persen saja.
Padahal, ketiga bidang ini motor utama industri yang diharapkan dapat menghasilkan devisa bagi negara. Namun, tentu saja para pebisnis enggan masuk ke sektor tersebut karena modal untuk membangun laboratorium dan perangkatnya tak sedikit. Jumlah konsumen pun tak sebanyak bidang lain. Jadilah PT swasta-PT swasta yang mayoritas beraliran sosial-humaniora. Kalaupun masuk ke ranah sains-teknologi, mereka menggarap bidang-bidang soft-science dan soft-engineering.
Pembusukan di PTN
Apakah pembusukan akademis ini tidak terjadi di PT negeri yang kualitas dan kuantitasnya dalam kendali pemerintah? Tunggu dulu. Imbas dari PT swasta tentu saja sangat kuat ke PT negeri karena dosen dan pendiri PT swasta kebanyakan adalah dosen PT negeri juga. Jelas pembusukan itu juga terjadi. PT negeri pun sudah lama tenggelam dalam bisnis pendidikan dan mencapai titik kulminasi saat Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
Sebenarnya saya tak ingin mendiskreditkan bisnis pendidikan jika bisnis ini dilakukan dengan etika dan etiket yang benar serta tak melupakan hakikat PT. Kita semua sadar, PT-PT top di Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Jepang juga melakukan bisnis pendidikan melalui apa yang dinamakan corporate university dengan etika dan etiket yang sangat ditentukan nilai-nilai ekonomi. Bedanya, mereka tak melupakan hakikat suatu PT.
Tujuan PT adalah tempat mencari kebenaran, penjaga nilai-nilai moral, tempat pengembangan ilmu, dan lain-lain. Di Indonesia, hakikat PT bahkan sudah didefinisikan secara sempurna dalam Tri Dharma PT. Hanya saja, pemahaman Tri Dharma PT ini menjadi sumber masalah karena secara tidak sadar tergerus oleh bisnis pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun.
Malangnya, kesalahan pemahaman Tri Dharma PT ini tecermin langsung dari poin-poin kum yang harus dikumpulkan dosen untuk naik pangkat hingga jabatan guru besar. Ketiga darma dipilah dengan persentase tertentu, misalnya pendidikan minimal 30 persen, penelitian minimal 25 persen, dan seterusnya.
Pemilahan jelas memperlihatkan ketidakpahaman arti Tri Dharma PT yang bersifat integral. Dampak kesalahan pemahaman klasik Tri Dharma PT ini adalah, pertama, dosen mengajar di kelas, kemudian pada hari lain masuk laboratorium meneliti bersama mahasiswanya, dan pada hari lain lagi bersama koleganya membawa berkardus-kardus mi instan untuk bakti sosial, khitanan, atau imunisasi massal.
PT-PT top Amerika Serikat tidak memiliki konsep Tri Dharma PT, tetapi telah menjalankan konsep tersebut dengan benar. Para insan akademis di sana melakukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang integral. Penelitian dilakukan untuk menunjang apa yang mereka ajarkan dan menjadi sarana utama untuk pengabdian masyarakat. Dengan demikian, dosen fakultas kedokteran yang dalam penelitiannya menemukan vaksin antiflu burung, misalnya, akan menguraikannya dalam topik kuliah dan pemanfaatan vaksin itu menjadi pengabdian yang berguna bagi masyarakat.
Tenggelam dalam bisnis
Mengapa hal ini minim terjadi di negara kita? Penyebab utamanya adalah tenggelamnya para dosen dalam bisnis pendidikan sehingga melupakan hakikat pendidikan tinggi. Parahnya lagi, saat seseorang direkrut menjadi dosen, dia tidak mempunyai pemahaman sama sekali bahwa seorang dosen juga merupakan peneliti. Maka, yang terjadi banyak dosen beranggapan bahwa penelitian adalah proyek bagi dosen dan banyak dosen meneliti di bidang yang bukan kepakarannya asalkan mendatangkan uang dan poin kum.
Ada beberapa hal lain yang juga menyebabkan distorsi pemahaman Tri Dharma PT. Salah satunya adalah jargon teknologi tepat guna yang sering melabeli persyaratan dana hibah penelitian. Saat ini, di Indonesia yang dianggap teknologi tepat guna adalah teknologi yang sebenarnya sudah ada atau dapat dikembangkan oleh institusi lain. Karena sifat intrinsik ini, penelitian yang mengarah ke teknologi tepat guna kebanyakan tidak dapat turut mengembangkan ilmu yang diajarkan di PT, terutama ilmu yang bersifat frontier dan dapat menimbulkan disintegrasi Tri Dharma PT.
Masyarakat berharap penelitian di PT dapat merambah ke tempat lain, di mana institusi seperti sekolah kejuruan, akademi, industri, ataupun lembaga litbang pemerintah tidak mampu ke sana. Maka, agar PT tidak dicap sebagai menara gading dengan produk-produk yang tidak langsung berguna bagi masyarakat, seyogianya kita mulai menyusun grand design penelitian nasional yang dapat menyinergikan semua penelitian di republik ini.

Kiat bijak memilih Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Bangkit

Keputusan melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi merupakan pilihan yang ideal. Mengingat persaingan SDM semakin ketat dan penuh kejutan. Siapapun tidak mau menjadi pecundang, sebaliknya mereka ingin menjadi pemenang ditengah-tengah kehidupan manusia.

Keterbatasan sumberdaya ditengah-tengah kesulitan perekonomian keluarga dan rendahnya informasi, menjadikan memilih perguruan tinggi adalah pekerjaan yang sulit. Keputusan yang salah pada akhirnya akan membawa penyesalan dan pengorbanan yang besar. Arah putar jam tidak mungkin diputar balik kembali. Berikut ini disampaikan beberapa kiat sukes memilih pergurun tinggi:
1. Menguji derajat kemauan untuk studi lanjut.
Kegagalan memilih perguruan tinggi dapat menjadi kenyataan dengan melihat seberapa kuat kemauan dan semangat calon mahasiswa itu sendiri. Apapun pilihannya, jika dilaksanakan dengan tekad kuat dan semangat yang tinggi akan memperkecil resiko kegagalan, dan membuka peluang kesuksesan berkarier. Ibarat batu keras yang menerima tetesan air secara terus menerus tanpa henti pada akhirnya batu tersebut akan pecah juga. Kapan batu tersebut pecah? Berapa lama batu tersebut akan pecah bergantung pada ketinggian air, tekanan air, debit air dan sebagainya. Dalam konteks ini, bergantung pada minat dan bakat saudara?
2. Menguji minat dan bakat
Minat dan bakat adalah dua hal yang berbeda. Peminat belum tentu Pebakat, sedangkan Pebakat sering tidak ingin menjadi Peminat. Seorang yang meraih kesuksesan sejati, yaitu seseorang yang memiliki bakat sekaligus memiliki minat yang tinggi. Ia memiliki kemampuan untuk mengembangkan bakatnya guna meraih karier yang gemilang.
Sebagai ilustrasi, banyak peminat olah raga sepak bola. Mereka mampu menahan kantuknya dan mengorbankan pekerjaan esok harinya demi sepakbola. Namun hanya sedikit diantaranya yang juga berbakat. Sebaliknya seorang yang memiliki suara emas tetapi tidak berminat menekuni dunia tarik suara, ia tidak dapat memanfaatkan kesempatan menjadi bintang terkenal (superstar). Ternyata bidang akuntanlah yang dipilihnya.
Minat dan bakat adalah penting, tetapi jauh lebih penting adalah minat. Dengan modal minat yang kuat, tantangan dan hambatan apapun dapat diminimalisir. Selanjutnya melalui celah sekecil apapun tantangan dan hambatan tersebut dapat diubah menjadi peluang kesuksesan.
3. Menguji Isi kantong
Isi hati seseorang adalah se-dalam lautan samudera dan tidak ada seorangpun yang tahu pasti. Sebaliknya isi kantong, walau tidak mudah tetapi tidak sesulit mengetahui isi hati seseorang. Isi kantong yang harus dikorbankan para orang tua dapat diperhitungkan sebelum pengambilan keputusan memilih perguruan tinggi.
Sejatinya pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang didukung dana besar. Jadi sudah sewajarnya Pendidikan berkualitas adalah mahal. Sehingga biaya penyelenggaraan perguruan tinggi yang berkualitas-pun menjadi mahal. Jika biaya pendidikan di bebankan seluruhnya kepada para orang tua mahasiswa, maka beban orang tua menjadi berat. Selanjutnya yang terjadi adalah kesempatan pendidikan tinggi kualitas hanya dapat dinikmati bagi orang kaya saja.
Bagi yang memiliki kendala dana, tidak perlu pernah kuatir. Karena tersedia pilihan cerdas untuk dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri/kedinasan atau swasta yang memiliki ciri-ciri sebagai berkut :
  • Memiliki Visi yang tegas menjadi kampus yang berorientasi “Sosial”
  • Memiliki sumber pemasukan yang besar di luar SPP mahasiswa
  • Memiliki akses dana yang kuat (pemerintah dan swasta)
  • Memiliki program Beasiswa
4. Menguji Orientasi dan komitment perguruan tinggi
Perguruan tinggi telah hadir menawarkan berbagai program pendidikan. Perguruan tinggi ternama dan “tak bernama” pun sibuk mempromoskan kampusnya. Ada yang memanfaatkan media televisi, radio, internet, koran, majalah, tabloid, spanduk, poster, pamflet, brosur. Intinya tawaran mereka semuanya, menarik dan menjanjikan.
Selanjutnya para orang tua dan calon mahasiswa menjadi bingung untuk memilih, sehingga ukuran yang paling mudah untuk dijadikan acuan dalam memilih perguruan tinggi adalah kesesuaian kemampuan keuangan orang tua dengan biaya pendidikan (SPP, Sumbangan gedung, kemahasiswaan, dll). Jika hal itu yang dilakukan, maka hal tersebut merupakan kesalahan besar. Seharusnya jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Orientasi dan komitmen perguruan tinggi perlu diuji.
Idealnya, Orientasi perguruan tinggi adalah berorientasi pada penciptaan lulusan yang memiliki keahlian dan kompetensi serta keberanian membuka lapangan kerja daripada penambahan angkatan kerja. Selanjutnya, perhatikan komitmen perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang baik seyogyanya memiliki komitmen bahwa mahasiswa adalah subjek bukan objek pendidikan. Dengan berpegang teguh pada komitmen demikian, maka diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif, efisien dan sinergis.
5. Menguji program studi (Prodi)
Kesesuaian antara minat dan bakat calon manahsiswa dengan prodi yang akan dipilih merupakan pekerjaan tidak mudah. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang harus diperhatikan: (1) Minat dan bakat, (2) ketersediaan prodi, (3) prospek lulusan prodi. Idealnya suatu pilihan meliputi kesesuaian ketiga hal diatas. Kondisi ideal adalah mahasiswa kuliah pada prodi yang sesuai dengan yang memiliki minat dan bakat, dimana lulusan prodi tersebut dibutuhkan oleh pasar pengguna lulusan.
Kondisi ideal memang sulit diwujudkan. Pada kenyataanya, seringkali yang terjadi hanya merupakan kombinasi sebagian dari beberapa hal tersebut diatas, yaitu kekuatan minat mahasiswa dan prodi yang kualitas. Walaupun demikian tidak perlu kuatir bahwa upaya tersebut apakah dapat mewujudkan prospek lulusan.
Prospek lulusan menjadi sempit jika orientasi lulusan adalah menjadi pekerja. Tetapi prospek berubah dari sempit menjadi luas ketika orientasi bergeser dari seorang pekerja bergeser menjadi wirausaha. Program studi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berbasis kewirausahaan "entrepreneurship""technopreneurship", atau "infopreneurship" adalah perguruan tinggi masa depan dan pantas dijadikan pilihan.
6. Menguji sumberdaya perguruan tinggi
Ketersediaan Fasilitas fisik yang memadai diperlukan guna mendukung proses belajar mengajar efektif, fasilitas yang diperlukan seperti kecukupan ruang kuliah, ruang dosen, ruang laboratorium, studio, ruang unit pelaksana teknis, ruang instalasi, ruang kantor, dan sebagainya adalah penting. Sekarang adalah era informasi, maka yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan sarana pembelajaran yang mengarah pada penyelenggaraan pendidikan berbasis ICT (information and communications technology. Mengingat media internet merupakan sumber perkembangan ilmu pengetahuan dan terapan, maka peranan ICT menjadi syarat terpenting bagaimana mewujudkan keberhasilan proses pembelajaran. Melalui ICT diharapkan perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan pasar pengguna lulusan. Ketersediaan Fasilitas e-learning (kuliah jarak jauh langsung) adalah ciri-ciri perguruan tinggi yang telah memanfaatkan ICT bagi proses belar mengajar.
7. Menguji Status
Ada dua (dua) legalitas minimal setiap program studi selaku penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi. Pertama, ijin penyelenggaraan pendidikan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, dimana ijin penyelenggaraan dapat diperpanjang setiap lima tahun. Kedua, status akreditasi yang di keluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Depdiknas dengan peringkat A, B, C dan tidak terakreditasi. Peringkat menunjukkan tingkat kemampuan proses penyelenggaran tingkat program studi dilihat dari berbagai aspek, seperti: jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan.
Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 61 ayat 2: “Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
Jadi status akreditasi sendiri tidak menjadi bermakna jika orientasi lulusan bukan menjadi pekerja, tetapi menjadi wirausaha yang mandiri. Selembar kertas berupa ijazah bukan untuk melamar pekerjaan semata, tetapi merupakan bukti perserta didik pantas menjadi lulusan perguruan tinggi dengan ciri-ciri lulusan: kritis, kreatif, inovatif, rasional dan berorientasi solusi bukan ilusi.
8. Menguji Keyakinan.
Terakhir, apapun pilihannya harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ketika pilihan sudah diputuskan pantang mundur ke belakang. Kegagalan diawali ketika munculnya keraguan. Pendidikan kualias adalah mahal dan butuh pengorbanan besar. Pengorbanan adalah investasi, dan investasi pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasil dari investasi pendidikan tidak dengan cepat dapat dirasakan manfaatnya bagi stakeholder.
9. Penutup
Warisan harta yang melimpah kepada anak yang tak berilmu akan habis dalam waktu singkat, tetapi warisan ilmu akan kekal sampai akhir hayat. Anak yang berilmu dapat memelihara harta orang tuanya, bahkan harta tersebut akan tumbuh dan berkembang serta bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Anak bangsa yang berilmu dapat memelihara kekayaan bangsa dan negara. Anak bangsa berilmu adalah SDM yang memiliki daya saing tinggi dan menjadi modal utama kemajuan dan kemadirian bangsa. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang menghargai sejarah dan karya sesama anak bangsa. Dengan demikian kita dapat mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan berdaulat.
Bangsa yang kuat harus didukung ekonomi yang kuat. Kedaulatan Ekonomi bangsa menjadi syarat penting kedaulatan bangsa. Melalui kesempatan studi lanjut ke perguruan tinggi diharapkan dapat mewujudkan Indonesia yang mandiri. Tanpa mengecilkan arti anak bangsa yang tidak berkesempatan menikmati belajar di perguruan tinggi, maka kepada lulusan perguruan tinggi, yaitu dokter, guru, insinyur, ekonom, sosiolog, akuntan, peneliti, notaris, apoteker dan profesi lainnya diharapkan dapat berpartisipasi membangun masyarakat peduli produk Indonesia sebagai syarat mewujudkan Indonesia Mandiri ! Ayo, Indonesia bangkit!